Bikin Merinding! Menguak Pesan Sakral Sri Sultan HB X untuk Warga Sragen di Malam Muhibah Budaya

Kabar Daerah 📅 13 Jul 2026, 22:23 ✍️ Mr.Pambudi
[ Slot Iklan Google AdSense - Top Article ]
Momen mengharukan saat Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, membacakan pesan tertulis langsung dari Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam acara Malam Puncak Muhibah Budaya Yogyakarta di Sragen.
Ilustrasi: Momen mengharukan saat Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, membacakan pesan tertulis langsung dari Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam acara Malam Puncak Muhibah Budaya Yogyakarta di Sragen.

POSISI.NET – Hubungan historis antara Bumi Sukowati (Kabupaten Sragen) dengan Keraton Kasultanan Yogyakarta bukanlah sekadar catatan usang di buku sejarah. Ikatan batin yang telah terjalin sejak era perjuangan Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I) tersebut kembali dihidupkan dalam sebuah momen sakral yang sukses membuat bulu kuduk merinding.

Momen bersejarah ini terekam jelas pada perhelatan akbar Malam Puncak Muhibah Budaya Yogyakarta di Sragen yang digelar pada Kamis (09/07) lalu. Acara yang menjadi ajang silaturahmi budaya agung ini membawa sebuah kejutan emosional bagi seluruh warga Sragen yang hadir.

Pesan Tertulis Langsung dari Sang Sultan

Puncak keheningan dan kekhidmatan acara terjadi ketika Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, naik ke atas mimbar. Bukan untuk memberikan sambutan biasa, melainkan untuk membacakan sebuah untaian pesan khusus yang ditulis dan diamanatkan langsung oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Melalui pesan yang dibacakan oleh Bupati Sigit Pamungkas tersebut, Sri Sultan menitipkan wejangan mendalam bagi warga Sragen tercinta. Beliau mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan perjalanan sejarah masa lampau sebagai bahan refleksi spiritual dalam menjalani kehidupan modern, sekaligus sebagai bekal moral untuk terus memberikan manfaat bagi sesama manusia.

Mengingat Nilai 'Tonggak Batin' dan Perjuangan

Berdasarkan unggahan resmi dari akun Instagram @humasjogja, untaian kata yang ditulis langsung oleh Sri Sultan HB X memiliki makna filosofis yang sangat kuat tentang jati diri dan kejuangan. Berikut adalah kutipan pesan sakral tersebut:

"Melengkapi sejarah dan tonggak batin dan rasa, menjadi sikap pribadi pada kejuangan seseorang, adalah sikap atau nilai yang diperjuangkan. Maka perlu dipahami bahwa nilai itu perlu diingat menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain dengan dasar..."

[ Slot Iklan Google AdSense - In-Article ]

Meski kalimat tersebut terkesan sederhana, maknanya begitu menohok. Sultan mengingatkan bahwa sejarah bukanlah sekadar rentetan peristiwa lampau, melainkan sebuah 'tonggak batin' yang membentuk karakter kejuangan seseorang. Nilai kejuangan inilah yang harus terus dirawat oleh warga Sragen agar senantiasa menjadi pribadi yang bermanfaat (migunani tumpraping liyan).

Merawat Memori Pangeran Mangkubumi di Bumi Sukowati

Bagi masyarakat Sragen, kehadiran delegasi budaya dari Yogyakarta dan pesan langsung dari Sri Sultan ini ibarat "pulang kampung" secara spiritual. Secara historis, wilayah Sragen (Bumi Sukowati) merupakan basis pertahanan dan daerah yang sangat vital bagi Pangeran Mangkubumi saat melawan penjajahan VOC dalam Perang Takhta Jawa.

Di Bumi Sukowati inilah, cikal bakal berdirinya Kasultanan Yogyakarta mulai dirajut. Oleh karena itu, acara Muhibah Budaya ini bukan sebatas pertunjukan seni atau diplomasi antardaerah semata, melainkan napak tilas untuk merekatkan kembali DNA sejarah dan kebudayaan Jawa yang mengalir deras di nadi Keraton Yogyakarta dan Kabupaten Sragen.

Mari kita rawat bersama pesan luhur dari Sri Sultan ini, dan jadikan tonggak sejarah Sragen sebagai motivasi untuk terus maju menjadi pribadi yang tangguh dan bermanfaat!

💬 Tinggalkan Komentar (0)

Jadilah yang pertama berkomentar di artikel ini!