Tak Lagi Kumuh, Bisnis 'Thrifting' Pakaian Bekas di Solo Raya Kini Jadi Tambang Emas Pemuda

Bisnis 📅 13 Jun 2026, 11:59 ✍️ Mr.Pambudi
[ Slot Iklan Google AdSense - Top Article ]
Suasana anak muda sedang memilih dan memilah pakaian bekas berkualitas (thrift) di sebuah pop-up store estetik.
Ilustrasi: Suasana anak muda sedang memilih dan memilah pakaian bekas berkualitas (thrift) di sebuah pop-up store estetik.

POSISI.NET, SOLO – Satu dekade yang lalu, berbelanja pakaian bekas atau awul-awul identik dengan kesan kumuh, berdesak-desakan di pasar tradisional yang panas, dan aroma kapur barus yang menyengat. Namun kini, wajah industri pakaian bekas telah bermutasi 180 derajat.

Di kalangan Gen Z dan milenial Solo Raya, berburu pakaian bekas kini dibalut dengan istilah keren: Thrifting. Hebatnya, aktivitas ini tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan telah menjelma menjadi tren gaya hidup sekaligus peluang bisnis yang sangat menjanjikan dengan margin keuntungan yang fantastis.

Mengapa bisnis thrifting kini bisa "naik kelas" dan menjadi mesin pencetak uang bagi para pengusaha muda lokal?

1. Dikurasi, Dicuci, dan Disajikan Secara Estetik Para pelaku usaha thrift masa kini sangat peduli pada presentasi produk. Mereka tak lagi menumpuk baju di lantai. Pakaian bekas (yang kebanyakan diimpor dari Korea atau Jepang) disortir ketat, di-laundry, disetrika wangi, lalu digantung rapi layaknya butik mahal. Toko fisik mereka pun didesain estetik dengan pencahayaan neon dan musik kekinian, membuat pembeli betah berlama-lama.

2. Sensasi 'Treasure Hunt' (Memburu Harta Karun) Daya pikat thrifting ada pada kejutan. Pakaian bekas biasanya hanya memiliki satu ukuran dan satu model (one of a kind). Saat pelanggan berhasil menemukan jaket vintage merek desainer terkenal dengan harga hanya 50 ribu rupiah, sensasi kemenangan (treasure hunt) yang dirasakan sangat luar biasa. Ini menciptakan efek candu yang membuat mereka terus kembali.

[ Slot Iklan Google AdSense - In-Article ]

3. Ekspansi 'Live Streaming' Malam Hari Selain toko fisik, rahasia perputaran uang cepat di bisnis ini ada pada media sosial. Banyak pengusaha thrift asal Sragen dan Karanganyar yang rutin menggelar sesi jualan siaran langsung (Live Streaming) di TikTok pada malam hari. Interaksi langsung, harga flash sale, dan kemudahan transfer membuat puluhan helai pakaian bisa ludes terjual hanya dalam waktu satu jam tayang.

Bisnis thrifting juga sejalan dengan kampanye eco-fashion (mode ramah lingkungan) untuk menekan limbah tekstil. Dengan modal yang relatif terjangkau, ketekunan memilah barang, dan kepiawaian mengelola media sosial, bisnis pakaian bekas adalah tambang emas yang sangat menggiurkan di tahun 2026 ini.

💬 Tinggalkan Komentar (0)

Jadilah yang pertama berkomentar di artikel ini!