Kejutan Pahit Pindah ke HP Sultan Fold8 Ultra! GadgetIn Sentil Provider Soal Susahnya Migrasi eSIM, Pengguna Lama Dianaktirikan?
POSISI.NET – Membeli dan melakukan upgrade ke smartphone flagship kelas atas alias "HP Sultan" di tahun 2026—seperti seri foldable terbaru—seharusnya menjadi pengalaman yang memuaskan dan menyenangkan. Namun, ada satu jebakan dan realitas pahit yang jarang disadari atau dibicarakan oleh banyak orang hingga mereka mengalaminya sendiri.
Realitas pahit ini baru saja disuarakan dengan lantang oleh reviewer gadget kondang, David Brendi dari kanal GadgetIn. Melalui unggahan terbarunya di Instagram yang langsung dibanjiri lebih dari 26,8 ribu likes, David menyoroti sebuah masalah sistemik dari provider telekomunikasi di Indonesia terkait teknologi eSIM (Embedded SIM).
Bagi Anda yang berencana mengganti smartphone dalam waktu dekat, informasi eksklusif dari Posisi.net ini wajib Anda simak sampai habis agar tidak ikut terjebak!
Tragedi Dual SIM Fisik dan "Kejutan" di HP Flagship Baru
Kisah ini bermula ketika David hendak memindahkan kartu Dual SIM fisik dari perangkat lamanya (Fold7) ke perangkat lipat generasi terbarunya, yang dalam unggahan tersebut disebut mengarah ke seri Fold8 Ultra.
Di sinilah letak kejutannya. Tren smartphone flagship di era modern saat ini perlahan namun pasti mulai menghilangkan keberadaan slot Dual SIM fisik secara penuh. Pabrikan ponsel pintar raksasa kini lebih memilih format satu slot SIM fisik (nano-SIM) yang dikombinasikan dengan teknologi eSIM, atau bahkan Dual eSIM sepenuhnya demi menghemat ruang di dalam bodi ponsel.
Masalahnya muncul ketika Anda memiliki dua nomor penting dalam bentuk kartu SIM fisik, dan ingin memindahkannya ke HP baru yang slot fisiknya sudah dibatasi. Solusi logisnya tentu saja adalah dengan mengubah salah satu (atau kedua) kartu fisik tersebut menjadi eSIM, bukan? Sayangnya, praktiknya di Indonesia tidak semudah membalikkan telapak tangan.
GadgetIn Sentil Provider: Pengguna Lama Dianaktirikan?
Melalui caption unggahannya, David secara terang-terangan me-mention salah satu provider digital populer di Indonesia, yakni By.U. Ia mengeluhkan sistem provider yang terkesan menyulitkan pengguna lama yang ingin melakukan migrasi dari SIM Card fisik ke eSIM demi mempertahankan nomor lamanya.
"@byu.id kapan user lama bisa migrasi SIM fisik ke eSIM? 🥲 Kayak user baru yg bisa langsung pesan eSIM," tulis David di akun @gadgetins.
Kritikan ini membuka mata publik tentang sebuah ironi besar di industri telekomunikasi kita saat ini. Jika Anda adalah pelanggan baru, Anda bisa dengan sangat mudah dan instan memesan nomor baru dalam format eSIM melalui aplikasi. Namun, jika Anda adalah pelanggan setia (pengguna lama) yang sudah bertahun-tahun menggunakan nomor fisik dan ingin mengubahnya menjadi eSIM (tanpa ganti nomor), prosesnya justru sangat berbelit-belit, belum didukung oleh sistem aplikasi, atau bahkan tidak bisa dilakukan sama sekali di beberapa provider digital!
Netizen Ikut Curhat Berjamaah
Unggahan yang sangat relatable ini sontak memicu gelombang dukungan dari para followers GadgetIn. Kolom komentar langsung dipenuhi oleh netizen yang ternyata menyimpan rasa frustrasi yang sama, namun selama ini bingung harus mengadu ke mana.
-
Akun @lenimard ikut mendesak pihak provider dengan berkomentar, "Iyaaa @byu.id ditunggu 😢."
-
Banyak pengguna lain yang juga membagikan pengalaman pahit mereka saat harus rela kehilangan nomor lama atau terpaksa membawa dua HP karena nomor utamanya tidak bisa dikonversi menjadi eSIM.
Mengapa Isu Ini Sangat Penting di Tahun 2026?
Banyak masyarakat yang belum menyadari bahwa teknologi eSIM bukanlah sekadar fitur pelengkap, melainkan sudah menjadi standar mutlak di industri smartphone global. Dengan ruang bodi yang semakin sempit karena ukuran baterai dan modul kamera yang kian membesar, mengorbankan laci SIM fisik adalah keniscayaan bagi para produsen HP.
Jika pihak provider seluler di Indonesia—baik konvensional maupun digital—tidak segera membenahi infrastruktur mereka untuk mempermudah migrasi nomor lama ke eSIM secara online dan seamless, maka konsumen kitalah yang akan terus dirugikan saat hendak menikmati teknologi gadget terbaru.
Kesimpulan: Waktunya Provider Berbenah!
Keluhan dari seorang tokoh teknologi sekelas David GadgetIn harusnya menjadi tamparan keras sekaligus bahan evaluasi bagi seluruh provider telekomunikasi di Tanah Air. Jangan sampai inovasi kemudahan eSIM hanya dijadikan alat marketing untuk menggaet pelanggan baru, sementara pelanggan lama yang setia justru ditelantarkan dan dipersulit.
Nah, apakah Anda juga pernah mengalami pengalaman menyebalkan saat mengurus SIM Card atau eSIM? Bagikan keluh kesah Anda di kolom komentar!
Untuk terus mengetahui tren gadget, hidden issue dunia teknologi, serta informasi viral yang mencerdaskan lainnya, pastikan Anda terus membaca dan membagikan artikel-artikel dari Posisi.net!
Berita Terkait
💬 Tinggalkan Komentar (0)
Jadilah yang pertama berkomentar di artikel ini!